Saturday, December 11, 2004

Salah Ingat Tanggal

Hari itu, tepatnya tanggal 28 April adalah hari ulang tahun Indah yang ke empat belas. Ia yang sekarang ini duduk di bangku kelas III SMP merasa senang sekali karena ternyata dari sejak tadi pagi ia bangun sudah banyak sekali orang yang memberi ucapan selamat padanya. Hal menyenangkan yang ia terima paling pertama adalah apa yang terjadi tadi pagi. Tadi pagi tiba-tiba saja pintu kamarnya digedor-gedor dengan teriakan mamanya yang panik seperti telah terjadi sesuatu. Maka Indah pun segera bangun dan membukakan pintu kamarnya, tapi ternyata yang dilihatnya pertama kali adalah bukannya wajah mamanya yang ketakutan melainkan sebuah kue tart kecil yang langsung dihadapkan tepat di depan wajahnya yang masih mengantuk itu. Di kue tart coklat itu tertuliskan, “Happy Birthday Indah” dan lalu ada lilin dengan angka “14”. Oh… betapa senang hatinya waktu itu. Lalu setelah mama dan papanya mengucapkan selamat, giliran kedua orang kakak laki-lakinya yang mengucapkan selamat padanya. Karena kejadian yang begitu menyenangkan itulah, ia pergi ke sekolah dengan wajah yang berseri-seri.

Tetapi ternyata hingga menjelang malam pukul sembilan, perasaannya masih belum juga bisa sreg dan tenang. Bagaimana tidak, hari itu pacarnya yang sudah jadian dengannya selama 2 bulan ternyata sampai saat-saat sebelum waktu tidurnya masih belum juga mengucapkan selamat padanya. Memang ia mengatakan pada seluruh teman-temannya untuk mengucapkan selamat padanya secara diam-diam, jangan sampai ketahuan sama Erik, pacarnya itu, sebab ia mau mengujinya apakah Erik ingat atau tidak dengan hari ulang tahunnya. Tapi ‘kan bukan berarti kalau ia tidak mau diberi ucapan selamat sayang dari pacarnya itu.

Indah pun jadi tidak bisa tidur. Ia masih berpikir akan adanya kejutan dari Erik. Ia berpikir mungkin saja Erik sebentar lagi akan datang dengan sebuket bunga di tangannya. Tapi ditunggu sebentar, sebentar, sebentar, dan semakin menjadi lama, Erik masih juga belum kunjung datang. Lalu ia melirik sebentar ke arah jam dinding berbentuk wajah Hello Kitty yang ada di atas meja belajarnya, ternyata sudah jam sepuluh malam. Maka harapannya mulai berkurang, sebab ia tahu bahwa jam malam Erik adalah pukul 22.30, sedangkan jarak dari rumah Erik ke rumah Indah menghabiskan waktu kurang lebih satu jam. Kemudian harapan terakhirnya adalah telepon! Segera dibawanya masuk telepon yang ada di ruang keluarga yang ada di depan kamarnya. Telepon itu diletakkannya di atas kasur dan ia pun menunggu sambil berbaring. Namun suara telepon tak kunjung juga berdering, sedangkan mata Indah yang sudah tidak kuat menahan rasa kantuknya pun mulai menutup dan Indah tertidur pada saat itu juga dengan melupakan segala beban yang ada.

Keesokkan paginya saat bangun, Indah langsung panik karena merasa ketiduran semalam itu adalah sebuah kesalahan, langsung dipanggilnya mbok pembantunya. “Mbok! Mbok! Sini, Mbok!” Maka datanglah si Mbok dengan cepatnya ke kamar Indah karena mendengar teriakan panik enon mudanya itu. “Iya, Non! Ada apa?” tanyanya.

“Mbok, semalam pasti kan tidurnya malam sekali. Nah, Mbok denger suara telepon gak?”

“Waduh! Maaf, Non! Mbok semalam memang tidur jam 12, tapi Mbok enggak dengar suara telepon sama sekali tuh!”

“Hah!?” seru Indah dengan wajah terkejutnya.

Berdasar seluruh kejadian pada tanggal 28 April itulah, pada hari itu tampang Indah suntuk sekali. Wajahnya murung sekali seharian. Di sekolah pun ia tidak gembira, bercanda dan bergosip bersama teman-temannya seperti yang biasanya ia lakukan.

“In, elo kenapa sih? Suntuk bener hari ini? Bukannya baru Sweet Pourteen kemaren?” tanya Lidya, salah satu teman segengnya.

“Dya! Gue pengen nangis deh rasanya! Lu bayangin, kemaren gue sama sekali gak denger suara Erik! Dan yah… lu tau lah apa artinya!” keluh Indah dengan wajah masih murung.

“Artinya dia gak nyelametin elo?” tanya Lidya dengan suara tinggi dan nada terkejut. Indah hanya bisa manggut-manggut saja.

Mendengar hal tersebut semua teman segengnya yang sedang duduk-duduk di dekatnya langsung menengok spontan ke arah Indah dan Lidya. Mereka melihat mata Indah sudah mulai berkaca-kaca lataran tidak kuat lagi untuk menahan rasa sakit di hatinya itu. Lidya yang berada di dekatnya langsung saja memeluk sahabatnya itu tanpa pikir panjang lagi, sedangkan teman-temannya yang lain ikut memberi semangat dan kata-kata untuk menghibur Indah. Perasaan mereka seperti sudah menyatu saja, wajah mereka semua ikut-ikutan sedih. Mungkin ini yang namanya senasib-sepenanggungan.

Kebetulan saja hari itu Erik sedang tidak masuk sekolah, sehingga indah tidak perlu bertemu dengannya. Tapi ternyata keesokkan harinya Erik sudah masuk sekolah.

“Halo, In!” sapa Erik. Tapi Indah yang masih memendam rasa sedihnya itu tidak membalas sapaan Erik dengan jawaban apapun. Ia langsung pergi tanpa melihat wajah pacarnya. Erik yang merasa aneh pun langsung mengejarnya.

“Indah! Kamu kenapa sih? Lagi marah yah sama aku? Emangnya aku ada salah apa sama kamu? Kalo ada salah bilang dong, jadi’kan aku bisa perbaikin.”

“Aku gak perlu bilang salah kamu apa dan aku juga gak akan mau bilang! Yang ada juga mah, kamu koreksi diri sendiri!” Lalu Indah langsung pergi begitu saja. Erik pun menjadi bingung, tapi ia sendiri tidak mau ambil pusing.

Seiring dengan berjalannya waktu, Indah pun dengan lapang dada mau memaafkan Erik, walaupun hingga saat itu Erik masih juga belum menyadari apa kesalahannya.

Akhirnya waktu telah berjalan tepat satu bulan lamanya sejak kejadian waktu itu. Sekarang tepat tanggal 28 Mei. Baru saja Indah datang dan masuk ke kelas, di mejanya sudah ada sebuah bingkisan kado kecil dengan pita berwarna merah yang membungkusnya. Di sebelah kanan bingkisan itu terdapat setangkai mawar merah dengan sebuah kartu kecil yang ada di atasnya. Indah merasa curiga dengan apa yang ada di atas mejanya itu karena ia merasa tidak ada yang spesial darinya di hari itu. Lalu ia membuka kartu ucapan kecil dan membacanya dalam hati. Betapa terkejutnya ia setelah ia membaca isi kartu itu. Bagaimana tidak, kartu itu bertuliskan kata-kata seperti ini, “Dear, Indah. Happy Birthday! Sweet Fourteen yah? Yah, pokoknya selamat aja! Semoga kamu makin cantik dan pinter. And semoga kita makin awet. Love, -me-“. Dalam hatinya, Indah merasa sangat ganjal. Ia berpikir bahwa ini adalah suatu ucapan selamat yang kadaluarsa sekali, ia juga menduga-duga kalau ini adalah hanya kerjaan orang yang iseng saja. Tapi tak lama kemudian Erik datang ke mejanya dengan wajah berseri-seri.

“Gimana, In? Suka gak sama Rose-nya? Loh, kadonya belom kamu buka? Bagus, loh!” kata Erik sambil memasang senyuman paling manis di wajahnya.

Tapi mendadak wajah Indah jadi memerah semua. Perasaan yang ada di dalam kepala dan hatinya bercampur aduk menjadi satu tidak karuan. Ia langsung berdiri dan berteriak ke arah muka Erik dengan suara yang tidak bisa dibilang kecil.

“Huh! Kok bisa-bisanya sih kamu dateng ke aku hari ini dengan kado ulang tahun? Aku ini umurnya udah empat belas tahun lewat satu bulan! Aku ini ulang tahunnya sebulan yang lalu, tepat tanggal 28! Emangnya apa sih yang kamu pikirin? Aku pikir kamu waktu itu bener-bener lupa karena suatu alasan yang tepat, makanya aku dengan mudah mau maafin kamu! Tapi nyatanya kamu nganggep aku ulang tahunnya hari ini! Emang sebenernya hari ini itu ulang tahun siapa sih? Aku yakin kamu pasti salah ingat tanggal! Atau mungkin tanggal aku ketuker sama orang lain! Hah?!”

Tiba-tiba baru saja Indah selesai mendamprat Erik habis-habisan, masuk seorang cewe’ ke dalam kelas dan mendekati mereka berdua. “Hai, Indah! Erik! Aku pikir kamu ke mana? Ternyata kamu ada di sini, yah? Tadi aku nyariin kamu karena aku berpikir kenapa kamu belon juga dateng-dateng ke aku untuk ngasih …… SELAMAT ULANG TAHUN KE AKU!!” Erik semakin berkeringat dingin saja. Ternyata setelah mereka bertiga berbicara panjang lebar. Erik pun mengaku kalau ternyata ia mendua. Rupanya ia lupa dan kebalik soal tanggal ulang tahun kedua pacarnya. Seharusnya Lianny, pacar keduanya yang berulang tahun di tanggal 28 Mei, tapi Erik mengingatnya Lianny berulang tahun tanggal 28 Juni. Sedangkan Indah yang seharusnya berulang tahun tanggal 28 April, seingat Erik ia berulang tahun tanggal 28 Mei, maka terjadilah insiden ini. Dan sebagai ganjaran untuk Erik karena mendua adalah ia diputusin oleh dua orang cewe’ tepat pada tanggal 28!

**Made in 2002, based on true story (but not mine!)

The End

0 Comments:

Post a Comment

<< Home